Semarang – Mahasiswa Prodi Studi Agama-Agama (SAA) Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang, Sultan Maulana Ajijuang Sarwono Putra, mengikuti kegiatan Peace Project Global Peace Youth Indonesia (GPYI) Semarang 2026 yang mengusung tema “Melampaui Perbedaan, Merajut Persaudaraan” pada 25 Juli 2026. Kegiatan ini diselenggarakan di Gereja Katolik Santo Yusuf (Gedangan) dan Susteran Santo Fransiskus sebagai bagian dari upaya memperkuat dialog lintas iman, toleransi, serta pembelajaran mengenai warisan sejarah dan budaya di Kota Semarang.

Kegiatan tersebut menghadirkan sesi kunjungan lapangan yang dipadukan dengan diskusi kritis mengenai sejarah, peran sosial, serta kontribusi Gereja Gedangan dan Susteran St. Fransiskus dalam bidang pendidikan, pelayanan kemanusiaan, dan kehidupan masyarakat multikultural. Peserta diajak memahami bagaimana institusi keagamaan bersejarah tetap mampu beradaptasi dan memberikan manfaat bagi masyarakat di tengah perubahan zaman.

Bagi Juang, panggilan akrabnya, keikutsertaannya dalam kegiatan ini memberikan pengalaman akademik yang sangat berharga. Menurutnya, pembelajaran secara langsung di lokasi bersejarah membuka perspektif baru mengenai hubungan antara agama, sejarah, dan pelestarian budaya.

“Kunjungan lapangan dan diskusi kritis mengenai Gereja Gedangan Kota Lama dan Susteran St. Fransiskus memberikan saya wawasan baru yang sangat kaya bagi analisis saya pribadi, terutama mengenai cara institusi bersejarah sejak abad ke-19 mempertahankan relevansi misi sosial dan pendidikannya di era modern. Pengalaman ini sangat menginspirasi saya untuk meneliti lebih dalam lagi mengenai ketahanan cagar budaya, terutama di kawasan pesisir seperti Tanjung Mas,” ungkap Juang.

Ia menambahkan bahwa kawasan Kota Lama Semarang dan wilayah pesisir memiliki keterkaitan yang erat dalam konteks pelestarian warisan budaya. Ancaman perubahan iklim, banjir rob, dan penurunan muka tanah menjadi tantangan serius yang perlu mendapat perhatian bersama agar bangunan-bangunan bersejarah tetap lestari bagi generasi mendatang.

Keikutsertaan mahasiswa SAA dalam kegiatan GPYI ini mencerminkan komitmen Prodi Studi Agama-Agama UIN Walisongo Semarang dalam mendorong mahasiswa untuk aktif mengikuti forum lintas agama, memperluas wawasan kebangsaan, serta mengembangkan penelitian yang mengintegrasikan isu kerukunan, sejarah, dan keberlanjutan lingkungan. Pengalaman tersebut diharapkan menjadi bekal bagi mahasiswa untuk menghasilkan kajian akademik yang responsif terhadap persoalan sosial dan pelestarian warisan budaya di Indonesia.

Sebagai bentuk apresiasi atas partisipasinya, Juang menerima sertifikat dari Global Peace Youth Indonesia (GPYI) Semarang sebagai peserta kegiatan Peace Project GPYI Semarang 2026. Penghargaan tersebut menjadi bukti keterlibatan aktif mahasiswa dalam membangun dialog lintas iman sekaligus memperkuat semangat perdamaian dan persaudaraan di tengah masyarakat yang majemuk.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *