Denpasar, Bali – Dosen Program Studi Studi Agama-Agama (SAA) Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang, Luthfi Rahman, M.S.I., M.A., menjadi narasumber dalam kuliah umum bertajuk “Wawasan Kebangsaan: Moderasi Beragama” yang diselenggarakan di Fakultas Ilmu Agama, Seni, dan Budaya Universitas Hindu Indonesia (UNHI) Bali, Kamis (4/6/2026). Kegiatan ini merupakan bagian dari rangkaian Kuliah Kerja Lapangan (KKL) mahasiswa Prodi Studi Agama-Agama (SAA) dan Prodi Aqidah dan Filsafat Islam (AFI) di UNHI Bali.

Dalam pemaparannya, Luthfi Rahman menekankan pentingnya wawasan kebangsaan sebagai fondasi dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) di tengah keberagaman agama, suku, budaya, dan identitas sosial yang dimiliki bangsa Indonesia. Menurutnya, kemajemukan yang dimiliki Indonesia merupakan anugerah sekaligus tantangan yang harus dikelola melalui sikap toleran, inklusif, dan moderat.

“Kehidupan bangsa yang damai tidak lahir dari keseragaman, melainkan dari kemampuan masyarakat untuk menghargai perbedaan dan membangun komitmen bersama dalam bingkai kebangsaan,” ungkapnya di hadapan mahasiswa dan sivitas akademika UNHI.

Dosen SAA UIN Walisongo Sampaikan Kuliah Umum Moderasi Beragama di UNHI Bali

Pada kesempatan tersebut, Luthfi Rahman mengajak peserta merefleksikan sejumlah peristiwa disintegrasi yang pernah terjadi di berbagai negara, seperti Yugoslavia dan Uni Soviet. Melalui contoh tersebut, mahasiswa diajak memahami pentingnya menjaga kohesi sosial dan memperkuat nilai-nilai kebangsaan agar perbedaan tidak berkembang menjadi konflik yang mengancam persatuan.

Pancasila Sebagai Dasar Negara

Ia juga menegaskan bahwa Pancasila merupakan titik temu seluruh elemen bangsa. Mengutip pemikiran Abdurrahman Wahid (Gus Dur), “Pancasila dipandang sebagai dasar negara yang mampu mempertemukan nilai-nilai keagamaan dan kebangsaan sehingga menjadi perekat persatuan Indonesia. Oleh karena itu, penguatan nilai-nilai Pancasila harus terus dilakukan, terutama di kalangan generasi muda.”

Selain membahas wawasan kebangsaan, Luthfi Rahman menyoroti pentingnya moderasi beragama dalam menghadapi berbagai tantangan kontemporer, seperti polarisasi sosial, intoleransi, ujaran kebencian, dan penyebaran paham radikal di ruang digital. Menurutnya, moderasi beragama merupakan cara pandang yang mendorong keseimbangan, penghormatan terhadap perbedaan, serta komitmen untuk hidup bersama secara damai dalam masyarakat yang majemuk.

Kuliah umum berlangsung interaktif dengan antusiasme peserta yang aktif mengajukan pertanyaan terkait kerukunan antarumat beragama, tantangan kebangsaan, serta peran generasi muda dalam menjaga harmoni sosial. Diskusi tersebut menjadi ruang refleksi bersama mengenai pentingnya membangun kehidupan beragama yang moderat sebagai modal sosial bagi keberlangsungan persatuan bangsa.

Mahasiswa Bertanya Kepada Pembicara Saat Kuliah Umum Moderasi Beragama di UNHI Bali

Melalui kegiatan ini, Prodi SAA dan AFI UIN Walisongo berharap mahasiswa semakin memiliki wawasan yang luas mengenai hubungan antara agama, kebangsaan, dan kehidupan sosial, sekaligus mampu menjadi agen perdamaian yang berkontribusi dalam memperkuat toleransi dan moderasi beragama di tengah masyarakat Indonesia yang plural.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *