
TEMANGGUNG – Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) Mandiri Misi Khusus Prodi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang resmi diserahkan kepada Pemerintah Desa Getas, Kecamatan Kaloran, Kabupaten Temanggung, pada Kamis (23/7/2026). Prosesi penyerahan berlangsung di Balai Desa Getas dan diterima langsung oleh Kepala Desa Getas, Dwiyanto, dari Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) Thiyas Tono Taufiq, S.Th.I., M.Ag. yang didampingi oleh Dosen Studi Agama-Agama, Aulia Rakhmat, M.A.
KKN Mandiri Misi Khusus merupakan inisiatif Prodi Studi Agama-Agama yang dikembangkan secara kolaboratif dengan melibatkan beberapa mahasiswa program studi di Fakultas Ushuluddin dan Humaniora, yaitu Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir, Aqidah dan Filsafat Islam, Tasawuf dan Psikoterapi, serta Ilmu Falak pada Fakultas Syari’ah dan Hukum. Mengusung tema “Merawat Bumi, Merawat Kerukunan: Penguatan Kesadaran Lingkungan dan Harmonisasi Sosial Berbasis Ekoteologi,” program ini merefleksikan komitmen Prodi Studi Agama-Agama dalam mengintegrasikan nilai-nilai keberagaman, kepedulian terhadap kelestarian lingkungan, serta penguatan harmoni sosial melalui kegiatan pengabdian kepada masyarakat yang bersifat kolaboratif dan transdisipliner.
Mahasiswa akan melaksanakan berbagai program pemberdayaan yang menghubungkan kajian akademik dengan kebutuhan masyarakat, mulai dari edukasi moderasi beragama, penguatan literasi lingkungan, pelestarian budaya lokal, hingga pengembangan kampung ekoteologi yang menempatkan agama sebagai inspirasi dalam merawat alam dan membangun kehidupan sosial yang harmonis.
Dalam sambutannya, Thiyas Tono Taufiq, S.Th.I., M.Ag. menyampaikan bahwa Desa Getas dipilih bukan tanpa alasan. Desa ini merupakan laboratorium sosial yang sangat relevan bagi Prodi Studi Agama-Agama dan UIN Walisongo Semarang pada umumnya untuk belajar secara langsung mengenai praktik kehidupan masyarakat yang mampu menjaga kerukunan di tengah keberagaman agama dan budaya.
“Mahasiswa tidak hanya hadir untuk menjalankan program kerja, tetapi juga belajar dari masyarakat. Desa Getas sebagai “Desa Rintisan Moderasi Beragama” memberikan contoh nyata bagaimana keberagaman dapat menjadi kekuatan sosial, sementara kepedulian terhadap lingkungan menjadi bagian dari nilai-nilai keagamaan yang hidup di masyarakat. Oleh karena itu, KKN ini diharapkan menjadi ruang kolaborasi antara kampus dan masyarakat dalam merawat bumi sekaligus merawat kerukunan,” ujarnya.
Menurutnya, KKN Mandiri Misi Khusus tidak sekadar menjadi media pengabdian, tetapi juga wahana implementasi keilmuan bagi UIN Walisongo Semarang dan secara khusus Prodi Studi Agama-Agama yang menekankan pentingnya moderasi beragama, resolusi konflik, dialog lintas iman, dan ekoteologi sebagai pendekatan dalam menjawab berbagai persoalan sosial dan lingkungan.
Ia berharap mahasiswa mampu mengembangkan berbagai program yang berorientasi pada pemberdayaan masyarakat, penguatan moderasi beragama, pendidikan lingkungan, konservasi berbasis masyarakat, serta kampanye ekoteologi sebagai bagian dari implementasi ilmu yang diperoleh di bangku perkuliahan.
Sementara itu, Kepala Desa Getas, Dwiyanto, menyambut baik kehadiran mahasiswa KKN Mandiri Misi Khusus Prodi Studi Agama-Agama. Ia berharap keberadaan mahasiswa dapat memberikan kontribusi positif bagi masyarakat melalui berbagai kegiatan edukasi, pemberdayaan, serta penguatan nilai-nilai toleransi yang selama ini telah menjadi identitas Desa Getas.
“Kami menyambut dengan senang hati kehadiran mahasiswa KKN UIN Walisongo. Semoga mahasiswa dapat berbaur dengan masyarakat, menggali potensi desa, sekaligus memberikan inovasi dan manfaat yang dapat dirasakan bersama. Kami siap mendukung seluruh program yang akan dilaksanakan selama KKN berlangsung,”ungkap Dwiyanto.
Desa Getas, Laboratorium Moderasi Beragama Berbasis Masyarakat
Desa Getas telah lama dikenal sebagai salah satu desa yang merepresentasikan kerukunan antarumat beragama di Kabupaten Temanggung. Masjid, Vihara, dan Gereja berdiri berdampingan dalam satu kawasan sebagai simbol nyata kehidupan masyarakat yang damai, saling menghormati, dan hidup berdampingan tanpa sekat.
Keharmonisan tersebut tidak hanya tampak pada keberadaan rumah-rumah ibadah, tetapi juga tercermin dalam kehidupan sosial masyarakat yang menjunjung tinggi nilai gotong royong, musyawarah, dan kebersamaan dalam berbagai aktivitas kemasyarakatan tanpa membedakan latar belakang agama.

Tidak hanya dalam aspek ruang sosial, masyarakat Desa Getas juga menjaga tradisi lintas agama yang telah diwariskan secara turun-temurun. Salah satunya adalah tradisi Nyadran, yang menjadi ruang perjumpaan warga lintas agama untuk memperkuat solidaritas, mempererat hubungan kekeluargaan, serta melestarikan nilai-nilai budaya lokal yang inklusif.
Tradisi tersebut menunjukkan bahwa budaya lokal mampu menjadi perekat sosial yang mempertemukan masyarakat dalam semangat kebersamaan, penghormatan terhadap leluhur, dan kepedulian terhadap lingkungan sekitar. Nilai-nilai inilah yang menjadikan Desa Getas sebagai contoh nyata praktik moderasi beragama yang tumbuh dari akar budaya masyarakat.
Dalam perspektif akademik, praktik baik masyarakat Desa Getas, dapat dipandang sebagai salah satu model moderasi beragama berbasis masyarakat yang memuat berbagai strategi penting, seperti penguatan budaya lokal, ruang interaksi lintas iman, kolaborasi sosial, kepemimpinan inklusif, serta pengelolaan keberagaman secara partisipatif. Model ini memperlihatkan bahwa kerukunan tidak dibangun melalui slogan semata, melainkan melalui interaksi sosial yang berlangsung secara alami dan berkelanjutan.
Menguatkan Konsep Ekoteologi Melalui Pengabdian Masyarakat
Pelaksanaan KKN Mandiri Misi Khusus di Desa Getas juga menjadi implementasi nyata pendekatan ekoteologi, yakni cara pandang yang menempatkan pelestarian lingkungan sebagai bagian dari tanggung jawab spiritual dan moral setiap umat beragama. Melalui pendekatan ini, mahasiswa didorong untuk mengembangkan program-program yang menghubungkan nilai keagamaan dengan aksi nyata dalam menjaga kelestarian alam.
Berbagai kegiatan yang akan dilaksanakan meliputi edukasi pengelolaan sampah, penghijauan, kampanye gaya hidup ramah lingkungan, penguatan ketahanan pangan berbasis masyarakat, serta dialog lintas agama yang mengangkat isu-isu lingkungan sebagai tanggung jawab bersama.
Dengan demikian, penguatan kesadaran lingkungan berjalan beriringan dengan upaya memperkokoh kerukunan antarumat beragama. Isu lingkungan diposisikan sebagai ruang kolaborasi lintas iman yang mampu mempertemukan seluruh elemen masyarakat untuk bekerja sama menjaga bumi sebagai rumah bersama.

Pelaksanaan KKN Mandiri Misi Khusus di Desa Getas merupakan wujud nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat, dengan menghubungkan pengembangan keilmuan di kampus dan praktik kehidupan sosial di tengah masyarakat. Melalui kehadiran mahasiswa, diharapkan terbangun sinergi yang semakin kuat antara nilai-nilai keagamaan, pelestarian lingkungan, dan budaya damai, sehingga Desa Getas dapat semakin mengukuhkan posisinya sebagai laboratorium moderasi beragama berbasis masyarakat sekaligus contoh praktik ekoteologi yang mendorong terciptanya harmoni sosial dan kepedulian ekologis.
Ke depan, Program Studi Studi Agama-Agama Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang berharap Desa Getas Kaloran dapat dikembangkan sebagai “Desa Binaan”. Kemitraan ini diharapkan menjadi wadah kolaborasi yang berkelanjutan dalam bidang pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat, sekaligus menjadi laboratorium sosial bagi pengembangan kajian moderasi beragama, dialog lintas agama, resolusi konflik, dan ekoteologi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat maupun pengembangan keilmuan.
