
Depok – Kabar membanggakan dari Prodi Studi Agama-Agama, Fakultas Ushuluddin dan Humaniora UIN Walisongo Semarang. Salah satu dosen, Mishbah Khoiruddin Zuhri, berhasil mempertahankan disertasinya dalam sidang terbuka (doctoral defense) Program Doktor Faculty of Islamic Studies Universitas Islam Internasional Indonesia (UIII) Kamis, 2 Juli 2026.
Disertasi yang diangkat berjudul “Between Traditional and Algorithmic Authority: The Rise of Santri Digital Creatives and the Making of Islamic Counterpublics in Indonesia”. Penelitian ini dibimbing oleh Prof. Yanwar Pribadi, Ph.D.sebagai promotor dan Bhirawa Anoraga, Ph.D. sebagai ko-promotor.

Dalam disertasinya, Mishbah mengkaji bagaimana Santri Digital Creatives (SDCs) berperan sebagai mediator antara otoritas keagamaan tradisional yang bertumpu pada kiai, sanad, dan kitab kuning dengan otoritas algoritmik media sosial yang ditentukan oleh jumlah tayangan, pengikut, serta logika platform digital. Penelitian ini berangkat dari pertanyaan mengenai bagaimana dan mengapa para kreator digital santri membentuk otoritas keagamaan dalam ruang digital Indonesia.
Melalui pendekatan digital ethnography, penelitian tersebut dilakukan dengan observasi di berbagai lokasi pengajian Gus Baha di Kudus, Rembang, dan Jakarta, disertai wawancara terhadap 28 Santri Digital Creatives, 17 audiens, dan 10 tokoh agama. Penelitian juga memanfaatkan analisis berbagai platform digital seperti YouTube, Facebook, Instagram, X, WhatsApp, Telegram, serta pemetaan data digital melalui API dan analisis tagar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa Santri Digital Creatives tidak sekadar menyebarluaskan ceramah ulama ke media sosial, tetapi juga berperan sebagai penerjemah budaya digital yang menghubungkan tradisi pesantren dengan ekosistem algoritma. Mereka mengemas ulang materi dakwah menjadi konten yang lebih mudah diakses tanpa sepenuhnya menghilangkan otoritas keilmuan yang dimiliki para kiai. Di sisi lain, penelitian ini juga mengungkap paradoks bahwa dakwah di ruang digital tidak dapat dilepaskan dari logika popularitas, branding, dan ekonomi perhatian (attention economy).

Secara akademik, disertasi ini memberikan kontribusi penting dalam pengembangan kajian agama digital. Mishbah memperluas konsep Religious Digital Creatives ke dalam konteks pesantren Indonesia melalui konsep Santri Digital Creatives, sekaligus menunjukkan bahwa media sosial tidak selalu menggantikan otoritas keagamaan tradisional, melainkan menjadi ruang negosiasi dan penguatan otoritas tersebut. Penelitian ini juga membuka peluang kajian lanjutan mengenai peran perempuan dalam dakwah digital serta dampak kecerdasan buatan (AI) terhadap otoritas keagamaan di masa depan.
Selamat dan sukses kepada Dr. Mishbah Khoiruddin Zuhri atas capaian akademik yang membanggakan. Semoga ilmu dan penelitian yang dihasilkan memberikan manfaat luas bagi pengembangan studi agama, dunia akademik, serta masyarakat Indonesia.
